Jumat, 31 Desember 2010

REPOSITIONING : DALAM RANGKA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KARYAWAN

Selama ini Repositioning lebih banyak dikaitkan dengan bagaimana caranya menempatkan produk perusahaan dengan cara yang lebih menarik, pelayanan yang lebih baik, saluran distribusi yang lebih banyak, harga produk dan jasa yang lebih efisien, dll, sehingga diharapkan produk tersebut dapat diterima oleh konsumen. Namun demikian repositioning juga dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas karyawan.
Setiap bisnis pasti berhadapan dengan persaingan dalam berbagai aspek: mulai dari kualitas produk, fitur, harga, pelayanan, dll. Semua itu memaksa pihak manajemen harus terus melakukan perubahan. Sayangnya, perubahan selalu dianggap merusak ZONA NYAMAN karyawan. Para karyawan kerap kali memiliki resistensi terhadap perubahan yang disodorkan oleh pihak manajemen atau konsultan manajemen. Mereka sangat enggan untuk meninggalkan zona nyaman yang selama ini mereka tempati untuk berpindah ke suatu wilayah yang belum jelas. Akibatnya, mereka hanya melihat bahwa mereka akan dituntut bekerja lebih keras, lebih lama, lebih kreatif, lebih berisiko, dan lebih...lebih... dan lebih...., dengan hasil dan imbalan yang belum jelas.
Perubahan dalam mengantisipasi persaingan memang tidak pernah terjadi dalam waktu semalam, melainkan merupakan proses yang direncanakan dan dijalankan dengan cermat. Semakin sistematis dan semakin cermat proses tersebut, maka semakin tinggi peluang suatu perusahaan akan tetap eksis dalam menghadapi dampak persaingan bebas dan globalisasi.
James Gwee, seorang ahli motivator dan managerial skills, menyarikan cara-cara dalam mengelola perubahan kedalam 7 langkah mengelola perubahan, yaitu:
1.      Anticipate Change
2.      Identify The Change
3.      Sell The Change
4.      Mobilize Resources For Change
5.      Break Down Comfort Zone
6.      Reinforce Success
7.      Continuous Learning and Change